Rabu, 24 April 2013

diversifikasi pangan


      BAB I
PENDAHULUAN

A.             Latar Belakang Masalah
           Pangan adalah keburuhan pokok manusia hingga ketahanan pangan merupakan hal yang sangat penting. Ketahanan pangan saat ini dapat dicapai, masih banyak keluarga yang belum mampu mewujudkan ketersediaan pangan yang cukup baik dalam hal mutu maupun  tingkat gizinya. Situasi pangan diindonesia cukup unik disebabkan oleh kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, keragaman social, ekonomi, kesuburan tanah dan potensi daerah.
B.              Identifikasi Masalah
           Di Indonesia pada tahun 1960-an, pemerintah telah menganjurkan konsumsi bahan-bahan pangan pokok selain beras. Pada tahun 1974, pemerintah juga mencanangkan kebijakan diversifikasi untuk lebih menganekaraagaamkan jenis pangan dan meningkatkan mutu gizi masyarakat. Namun langkah tersebut belum membuahkan hasil yang maksimal, masyarakat Indonesia masih cenderung  mengkonsumsi beras. Apalagi pada masyarakat di daerah konsumsi beras sangat tinggi hingga kebijakaan diversifikasi kurang berjalan lancar.
C.              Pembatasan Masalah
           Dalam karya ilmiah ini, penulis membatasi permasalahan pada pentingnya diversifikasi di Indonesia dan jenis aneka pangan serta kendala dalam diversifikasi pangan tersebut.
D.              Perumusan Masalah
·         Sejauh mana pentingnya diversifikasi pangan di Indonesia.
·         Apa contoh jenis aneka pangan .
·         Kendala dalam diversifikasi pangan di Indonesia.
                



BAB II
METODOLOGI PENELITIAN
A.              Tujuan
           Karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui peran diversifikasi pangan dalam pemenuhan kebutuhan pangan Indonesia, mengetahui aneka jenis pangan dan kendala dalam diversifikasi pangan di Indonesia.
B.              Lokasi
      Penelitian ini dilakukan di tinjauan pustaka, mengenai masalah diversifikasi pangan.
C.              Waktu
       Penelitian dalam karya ilmiah ini dilakukan mulai dari tanggal 20 November sampai pada tanggal 15 Desember 2011.














BAB III
PEMBAHASAN

DIVERSIFIKASI PANGAN DI INDONESIA
A.              Pengertian Diversifikasi Pangan
      Kasryono et al. (1993) memandang diversifikasi pangan sebagai upaya yang sangat erat kaitannya dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, pembangunan pertanian di bidang pangan dan perbaikan gizi masyarakat, yang mencakup aspek produksi, konsumsi, pemasaran, dan distribusi. Sementara Suhardjo (1998) menyebutkan bahwa pada dasarnya diversifikasi pangan mencakup tiga lingkup pengertian yang saling berkaitan, yaitu diversifikasi konsumsi pangan, diversifikasi ketersediaan pangan, dan diversifikasi produksi pangan. Pakpahan dan Suhartini (1989) menetapkan konsep diversifikasi hanya terbatas pangan pokok, sehingga diversifikasi konsumsi pangan diartikan sebagai pengurangan konsumsi beras yang dikompensasi oleh penambahan konsumsi bahan pangan non beras.
B.              Arah Diversifikasi Pangan
      Program diversifikasi konsumsi pangan dapat diusahakan secara stimultan di tingkat nasional, regional (daerah) maupun keluarga. Upaya untuk mewujudkan diversifikasi konsumsi pangan sudah dirintis sejak awal dasawarsa 60-an, dimana pemerintah telah menyadari pentingnya dilakukan diversifikasi tersebut. Saat itu pemerintah mulai menganjurkan konsumsi bahan - bahan pangan pokok selain beras. Program yang menonjol adlah anjuran untuk mengkombinasikan beras dengan jagung, sehingga pernah popular istilah “beras jagung”.
      Kemudian di akhir pelita I (1974), secara ekplisit pemerintah mencanangkan kebijaksanaan diversifikasi pangan melalui Inpres No. 14 tahun 1974 tentang Perbaikan Menu Makanan Rakyat (UPMMR), dan disempurnakan melaalui Inpres No. 20 tahun 1979. Namun daalam perjalanannya, tujuan diversifikasi konsumsi pangan lebih ditekankan sebagai usaha untuk menurunkan tingkat konsumsi beras, dan diversifikasi konsumsi pangan hanya diartikan pada penganekaragaman pangan pokok, tidak pada keanekaragaman pangan secara keseluruhan, sehingga banyak bermunculan berbagai pameran dan demo masak memasak yang menggunakan bahan baku non beras seperti dari sagu, jagung, ubikayu atau ubijalar, dengan harapan masyarakat akan beralih pada pangan non beras.
C.              Kendala Diversifikasi Pangan
      Walaupun upaya diversifikasi sudah dirintis sejak dasawarsa 60-an, namun sampai saat ini masih belum berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Ketergantungan akan beras yang masih tinggi dikalangan masyarakat dan meningkatnya tingkat konsumsi ini secara signifikan menjadikan upaya diversifikasi konsumsi pangan belum menunjukkan keberhasilan, bahkan salah arah.
      Pola makan masyarakat sebenarnya telah beragam, walaupun tingkatannya masih belum seperti yang diharapkan, terutama dalam standar kualitas dan kuantitas makanannya. Dalam hal ini, diversifikasi pola makan tersebut sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, pendidikan dan pengetahuan, serta ketersediaan dan keterjangkauan. Disamping itu, terdapat pula pengaruh lintas budaya terutama akibat globalisasi yang signifikan. Dengan demikian tingkat keanekaragaman pangan akan berbeda menurut kelompok masyarakat. Pola makan yang beragam diduga lebih disebabkan karena peningkatan pendapatan dan sebagai hasil komunikasiantara produsen pangan dan konsumen, yang sebenarnya tidak ditujukan untuk mendorong keanekaragaman pangan masyarakat tetapi untuk mempromosikan produk yang dihasilkan.
Faktor-faktor yang menyebabkan diversifikasi konsumsi pangan sulit terlaksana:
·         Beras lebih bergizi dan mudah diolah
Secara instrinsik, beras memang mempunyai banyak kelebihan dibandingkan jagung dan ubi kayu. Selain kandungan energi dan protein beras lebih tinggi dibandingkan jagung dan ubi kayu, beras juga mempunyai cita rasa yang lebih enak walaupun dengan lauk-pauk seadanya, di samping itu juga cara mengolahnya lebih mudah dan lebih praktis serta tidak memerlukan waktu yang lama.


·         Konsep makan
Masih banyak ditemukan masyarakat yang mempunyai konsep makan “merasa belum makan kalau belum makan nasi”, walaupun sudah mengkonsumsi macam-macam makanan termasuk lontong,ketupat. Pola masyarakat seperti ini yang mengakibatkan meningkatnya permintaan beras dan menghambat diversifikasi konsumsi pangan.
·         Beras sebagai komoditas pangan superior
Kuatnya paradigm masyarakat yang menganggap beras sebagai komoditas yang superior atau prestisius, sehingga masyarakat menjadikan beras sebagai pangan pokok yang memiliki status social lebih tinggi.
·         Ketersediaan beras melimpah dan harga beras murah
Di Indonesia, beras telah dijadikan komoditas politik dan strategis, sehingga kebijakan pangan bisa pada beras. Kebijakan pemerintah dalam menyukseskan diversifikasi konsumsi pangan terkesan setengah hati karena pemerintah juga telah menetapkan berbagai kebijakan yang berkaitan dengan perberasan mulai dari industri hulu sampai industri hilir, sehingga pertumbuhan produksi beras terus meningkat dan beras dapat dijumpai dimana-mana dengan mudah.
·         Pendapatan rumah tangga masih rendah
Rumah tangga dengan pendapatan tinggi akan berupaya memenuhi tuntutan kulitas, sehingga konsumsi beras menurun dan akan beralih pada pangan yang mahal. Sedangkan pada rumah tangga dengan pendapatan rendah, peningkatan pendapatan justru meningkatkan konsumsi beras dan mengurangi bahan pokok lainnya seperti jagung dan ubi kayu.
·         Teknologi pengolahan pangan nonberas dan promosinya masih terbatas
Dengan sentuhan teknologi pengolahan diharapkan dapat menghasilkan pangan yang lebih bermutu,menarik, disukai dan terjangkau oleh masyarakat. Pada saat ini, pengolahan pangan nonberas masih terbatas dan teknologi yang digunakan masih
sederhana(tradisional) sehingga produk yang dihasilkan masih dianggap sebagai barang inferior.
·         Kebijakan yang tumpang tindih
Kebijakan pangan yang ditetapkan tidak konsisten dan sinkron antara program yang satu dengan yang lain. Program diversifikasi konsumsi pangan telah ditetapkan sejak dulu, namun pemerintah menetapkan harga beras murah yang mendorong masyarakat untuk mengkonsumsi beras.
·         Kebijakan impor gandum,  jenis product development cukup banyak dan gencarnya promosi
Adanya kampanye yang intensif melalui berbagai media seperti media elektronik, product development yang diperluas dengan harga yang bervariasi dan mudah diperoleh, turut mendorong peningkatan partisipasi konsumsi produk gandum terutama baerupa mie dan roti.

D.              Pentingnya Diversifikasi Pangan
      Ketergantungan konsumsi pangan terhadap beras tidaklah menguntungkan bagi ketahanan pangan, terutama yang terkait dengan aspek stabilitas kecukupan pangan.
Dampak positif  dari kebijakan diversifikasi konsumsi pangan antara lain:
1.      Memperkuat ketahanan pangan
Masalah ketahanan pangan menjadi isu penting oleh karena itu upaya menurunkan peranan beras dan menggantikannya dengan jenis pangan lain menjadi penting dilakukan dalam rangka menjaga ketahanan pangan dalam jangka panjang. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan mengembengkan dan mengintroduksi bahan pangan alternative pengganti beras yang berharaga murah dan memiliki  kandungan gizi yang tidak jauh berbeda dengan beras.
2.      Meningkatkan pendapatan petani dan agroindustry pangan
Petani akan memproduksi komoditas yang banyak dibutuhkan oleh konsumen dan yang memiliki harga cukup tinggi. Mereka tidak akan lagi tergantung pada komoditas padi sebagi sumber pendapatan usaha taninya, tetapi dapat mencoba tanaman lain yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi.
3.      Menghemat devisa Negara
Keberhasilan diversifikasi konsumsi tidak hanya memperkuat ketahanan pangan masyarakat tetapi juga bermanfaat bagi penghematan devisa Negara yang berarti meringankan beban keuangan Negara apalagi disaat terjadi krisis ekonomi  ini.





BAB IV
PENUTUP

A.             Kesimpulan
      Peran beras sebagai pangan pokok semakin kuat, yang ditunjukkan oleh tingkat partisipasi yang cukup tinggi di berbagai wilayah termasuk pada wilayah yang sebelumnya mempunyai pola pangan pokok bukan beras. Pangan local seperti jagung dan ubikayu semakin ditinggalkan masyarakat, namun pangan global seperti mi semakin banyak digemari. Selain untuk meningkatkan sumberdaya manusia, dampak positif dari pelaksanaan program diversifikasi konsumsi pangan adalah untuk memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan pendapatan petani dan agroindustri pangan serta menghemat devisa. Keberhasilan diversifikasi konsumsi pangan tidak hanya memberikan keuntungann bagi tersedianya bahan pangan bagi penduduk, namun diharapkan juga membawa dampak positif dalam kehidupan social masyarakaat dan perekonomian nasional.

B.              Saran
      Peranan dari masyarakat juga dibutuhkan agar program diversifikasi konsumsi pangan  dapat berjalan dengan lancar. Maka dari itu, masyarakat diharapkan agar bisa membantu pemerintah dalam mengurangi konsumsi terhadap beras dan gandum dan mencoba untuk mengkonsumsi bahan baku nonberas seperti sagu, jagung, ubikayu, ubi jalar dan lain sebagainya.




DAFTAR PUSTAKA

Kasryno, F., M. Gunawan, dan C. A. Rasahan. 1993. Strategi Diversifikasi Produksi Pangan. Prisma, No. 5. Tahun XXII.Jakarta:LP3ES.

Pakpahan, A. dan S. H. Suhartini. 1989. Permintaan Rumah Tangga Kota di Indonesia. Prisma No. 5, Tahun XXII. Hlm. 13 – 24.Jakarta:LP3ES.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar